I Met With Him

***

I MET WITH HIM

 

Setelah memikirkan pemuda itu aku pun kembali melukis wajahnya dengan pensil diatas buku gambar , sambil menunggu Hyeonju menyelesaikan mata kuliahnya lalu menghampiri ku di cafetaria ini .

Jujur saja saat melukis wajahnya aku tidak menemukan kesulitan sama sekali rasanya seperti aku benar-benar bertemu dengan nya setiap hari . sesekali aku menikmati minuman kesukaan ku bubble tea .

Aku sudah selesai dengan membuat sketsa wajahnya rasanya tidak perlu waktu lama tidak seperti saat aku menggambarkan wajah Kai tiga hari yang lalu …

“Hanna!”

Ah suara itu aku kenal tentu itu suara Park Hyeonju siapa lagi kalau bukan dia? Karena aku tidak mempunyai sahabat perempuan selain Hyeonju.

Aku menolehkan kepala ku kebelakang

“Hyeonju , disini”

Tanpa pikir panjang Hyeonju menghampiri ku .

Dia terlihat begitu senang , ada apa dengan dirinya? Kuputuskan untuk tidak bertanya dan melanjutkan melukis karena aku tahu dia akan langsung bercerita tentang apa yang dia rasakan hari ini .

Setelah dia memesan minuman kesukaan nya chocolate bubble , Hyeonju memanggil nama ku.

“Hanna…”

Wajahnya terlihat senang .

“ada apa? Kau terlihat begitu bahagia”

Jawab ku sambil meletakkan buku gambar dan pensil ku diatas meja mempersiapkan kedua tangan ku untuk menumpu dagu ku dan mendengarkan ceritanya.

“tadi pagi aku bertemu dengan Jongdae!”

Serunya , ah aku tau pemuda itu Kim Jongdae cinta pertamanya saat dia berusia 15tahun.

Seketika aku membelakakan mataku…

“benarkah? Bagaimana bisa?”

“kami tanpa sengaja bertemu di bus , aku tidak banyak berbincang dengan nya karena dia harus turun di halte berikutnya .  ah hari ini sungguh indah”

Aku hanya tersenyum melihat ekspresinya yang terlihat seperti memuja oppa-oppa di televisi .

Kisah percintaan ku tidak semenarik Hyeonju , Hyeonju bisa dengan mudahnya menerima ajakan kencan setiap pemuda namun Kim Jongdae masih tetap menjadi nomor satu dihatinya , jujur saja sampai saat ini aku masih tidak tahu mengapa mereka harus berpisah padahal mereka saling menyukai satu sama lain untuk waktu yang lama .

Saat berpisah dengan Jongdae di usia 17tahun , Hyeonju tidak bercerita apa-apa dengan ku dia hanya diam seperti di beri obat bisu walaupun aku sangat dekat dengan nya sejak kecil tapi ku rasa aku tidak berhak terlalu ikut campur tentang apa yang dia rasakan membuatnya seperti ‘happy virus’ kembali itu  sudah membuat ku senang…

“kau melukis apa?”

Tanya Hyeonju tiba-tiba

“pemuda yang terus datang ke mimpi ku…”

Jawabku tenang sambil terus mengarsir daerah rambut lukisan ku..

“kau terlihat seperti seonggok daging yang bodoh Hanna , sudah ku bilang kau cantik dan baik dengan mudahnya kau bisa menerima ajakan kencan para pemuda disini”

Hyeonju mendengus kesal melihat ku …

Ah itu benar aku terlihat seperti seonggok daging yang bodoh karena Hyeonju tahu sebelumnya aku belum pernah jatuh cinta menjadi gila seperti ini…

Aku hanya tersenyum mendengar cibiran nya…

“harus berapa kali aku katakan itu agak mustahil Hanna”

Hyeonju kembali menasihati ku , dia tidak pernah lelah dengan hal itu…

“terimakasih telah memperingatkan ku tapi kau tidak perlu menjadi sekhawatir ini dengan keadaan ku”

Jawabku sambil tersenyum…

Hyeonju hanya mendecak kesal…

 

Terimakasih sudah menasihati dan mengkhawatirkan ku layaknya seorang ibu Park Hyeonju…

-000-

lari pagi di musim gugur menurut ku adalah hal yang paling menyenangkan , di minggu yang pagi ini aku putuskan untuk berolahraga di taman yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal ku .

terlihat cukup banyak pasangan muda yang sedang berolahraga namun tiba-tiba pandangan ku fokus kepada satu orang pemuda .

aku mencubit dan menampar pipi ku dan rasanya ini cukup sakit , aku memegangi pipiku sejenak…

“apa ini mimpi?”

Bukan maksudku aku benar-benar melihat pemuda itu , ya pemuda yang akhir-akhir ini selalu datang ke dalam mimpi ku , rambutnya coklat kulitnya putih dan aku bersumpah dia jauh lebih tampan dari yang ada di mimpi ku..

Aku memperhatikan nya terus memperhatikan nya sambil mencoba menetralisir detak jantung ku yang berdegup cukup kencang mungkin saat ini aku terlihat seperti seonggok daging idiot di taman…

Aku terus memperhatikan nya , pemuda itu mengenakan celana trening berwarna hitam selutut dan kaus tanpa lengan berwarna putih …

Ah bisa kau bayangkan betapa ‘manly’ nya dia…

Dan sepertinya dia menyadari karena sejak tadi aku terus memperhatikan nya , dengan sigap aku mengalihkan pandangan ku melihat pohon sekitar .

Ku kira dia hanya sesaat memperhatikan ku lalu melanjutkan rutinitas nya kembali tapi ternyata tidak dia terus memperhatikan ku seperti apa yang aku lakukan tadi.

Ekor mata ku terus meliriknya , dia masih dengan posisi yang sama…

Apa jangan-jangan aku juga hadir dalam mimpinya?

Astaga Kim Hanna bagaimana bisa kau berpikiran yang aneh-aneh dipagi hari ini .

Aku juga merasa risih karena terus diperhatikan olehnya tapi …

Bagaimana jika ini pertemuan pertama dan terakhir aku dengan nya? Jadi aku putuskan untuk menengok ke arahnya lalu tersenyum kemudian melanjutkan lari pagi ku…

 

-000-

Aku terduduk di ranjang kamar ku sambil memperhatikan lukisan yang aku buat kemarin di cafetaria . wajah pemuda dilukisan ini sangat mirip dengan pemuda yang aku lihat pagi tadi di taman…

Apa aku masih tertidur? Atau ini memang benar-benar kenyataan .

Masalahnya hampir setiap mimpi ku selalu menjadi kenyataan tapi aku belum pernah bermimpi jadi seorang milyader jadi sampai saat ini aku masih tinggal di flat peninggalan ibu ku kalau pun aku bermimpi seperti itu mungkin sekarang aku bisa tinggal di apartemen ternama…

Aku mengacak kesal rambutku mencoba mengingat malam pertama dimana malam saat pemuda itu mulai datang ke mimpi ku dan meluluhkan hati ku secara perlahan…

Saat pertama kali dia datang rambutnya blonde , namun dimalam berikutnya rambutnya menjadi coklat…

Ini aneh dan penuh teka-teki…

 

Aku tidak ingin bercerita dengan Hyeonju karena pasti jawaban nya selalu tidak sesuai jadi aku putuskan untuk diam saja…

Sampai akhirnya aku mengetahui namanya dan pemuda itu memang benar-benar ada bukan karena imajinasi ku belaka…

 

Aku mulai mengingat-ingat mengumpulkan masa lalu ku seperti klise …

Kapan aku mulai mengenal Hyeonju

Kapan aku mulai hobby melukis dan menjadikan Hyeonju sebagai objek ku

Kapan Ayah ku meninggalkan aku dan ibu ku…

Dan pada akhirnya aku sampai di potongan terakhir ketika ibuku meninggalkan aku …

Ini sangat menyakitkan ibu ku meninggalkan ku saat usia ku masih belia disaat aku masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua ku. Saat itu keluarga ayah ku tidak mau menampung ku mengingat keadaan finansial mereka yang buruk dan pekerjaan bibi ku yang tidak jelas.

Sampai akhirnya ibu Hyeonju berbaik hati mau merawat ku hingga usia ku cukup dewasa dan mandiri untuk tinggal seorang diri…

Tidak ada peninggalan berharga selain flat ini dan uang tabungan milik almarhum ibu ku…

Aku kembali meneteskan air mata mengingat kejadian itu semua .

setidaknya terimakasih Tuhan kau masih mengizinkan aku untuk bernapas hingga detik ini…

ah ya kembali mengingat kejadian-kejadian di masa lalu , hingga akhirnya aku ingat aku baru saja jatuh cinta dengan seorang pemuda dan menjadi segila ini…

 

Tuhan boleh kah aku mengetahui pemuda yang kau takdirkan untuk selalu mengunjungi mimpi ku ?

 

-FIN-

Advertisements

2 thoughts on “I Met With Him

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s