(Noonatea) Moonlight #1

a brand new day

Seorang gadis dengan mengenakan atasan kemeja putih polos dan bawahan rok hitam selutut sedang berjalan menyusuri koridor yang bahkan ia tak tau kalau ia berada di koridor gedung apa.

Seharusnya ia tak kesiangan hari ini maka ia akan bisa berangkat bersama teman-nya namun entah kenapa dihari pertama ospek teman-nya berubah jadi tega meninggalkan dia yang masih tertidur lelap.

Kalau ia mempunyai banyak kata tidak berfaedah maka ia akan dengan senang hati memberikan itu semua kepada teman-nya tapi ya tetap saja teman-nya itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena teman-nya sudah bersusah payah membangunkannya, lagipula siapa suruh ia tidur jam 3 pagi hanya demi menonton tumpukan dvd yang jelas-jelas sekarang membawanya kedalam masalah.

Dia berdecak, kesal ketika melihat angka di jam tangan-nya. dia tau pasti kalau sekarang dia benar-benar berada dalam masalah.

Dia terlambat di hari pertama ospek.

“satu, satu, dua test Big Boss disini. Gimana? Maba udah masuk semua ke Gimnasium?” seorang laki-laki dengan mengenakan jaket almamater terlihat sedang berjalan ke-arah-nya sambil sesekali berbicara dengan seseorang melalui walkie-talkie

Suasana koridor ini benar-benar sunyi lantas membuat suara berat lelaki itu terdengar jelas membuat aliran darah-nya mengalir lebih cepat. Pasti, laki-laki itu akan bertanya gak mungkin enggak.

Dan benar saja dari kejauhan mata-nya sudah menyipit melihat seorang gadis berdiri mematung.

Semakin dekat, tatapan mata-nya kini tidak sesipit tadi.

Dan sekarang laki-laki itu membuat dia terlihat seperti kurcaci, tubuh tinggi lelaki itu membuat dia harus menengok ke atas karena tinggi dia hanya sebatas leher laki-laki itu saja.

“Kamu Maba? Terlambat di hari pertama ospek? Kenapa bisa ada di gedung Fakultas Pertambangan dan Perminyakan? Nyasar?” sebagai senior yang sedang monitoring, laki-laki itu langsung menghujani-nya dengan pertanyaan yang jelas-jelas dia tau jawaban-nya.

“i-iya” ujar Gadis itu gelagapan. Gimana enggak? Senior yang ada di hadapan-nya ini air wajah-nya udah hampir murka.

“test Big Boss, Big Boss” tiba-tiba walkie-talkie nya bunyi.

“Big Boss disini over,” ujar-nya sambil berkaca pinggang.

Gemes banget rasanya masih ada aja Maba yang nyasar, Pikirnya.

Lalu mata-nya memincing, melirik papan nama Maba yang saat ini berada di hadapannya dengan raut wajah pasrah.

“Big Boss, lo dimana?”

“gue lagi di Gedung FT, ada Maba nyasar. gue ke Gimnasium dulu ya, Bawa nih bocah”

“oke” percakapan melalui walkie-talkie berakhir, kini ia kembali berhadapan dengan gadis itu.

Ia menatap-nya sesaat, melihat gadis dihadapannya ini udah lemes, sedih, gimana gitu buat dia jadi Iba tapi tetep aja gemes.

“kenapa bisa telat ‘sih? Yaudah ayo ikutin saya” ujar-nya kesal, lalu berjalan satu meter di depan gadis itu.

Sementara gadis yang berjalan mengekori-nya ini hanya bisa menatap punggung-nya kesal. Iya, gadis itu tau kalau dia baru saja membuat kesalahan dan memang wajar kalau dihukum atau di perlakukan seperti beberapa menit lalu. Tapi entah kenapa, gaya-nya tuh senga? Kayak,

sok banget ganteng ‘sih lo?

setelah kurang lebih lima menit berjalan, akhirnya mereka tiba di ambang pintu masuk Gimnasium, disana udah terlihat banyak orang duduk lesehan.

“kamu Jurusan apa?” tanya laki-laki itu, dengan maksud ingin mengantar-nya ke barisan Jurusan gadis itu.

“Hubungan Internasional” jawab-nya dengan ekspresi datar. Sementara laki-laki itu hanya bisa mengangguk saja.

Kemudian ia kembali berjalan dengan gadis itu mengekori-nya. Mereka menarik perhatian banyak orang karena suasana gedung memang sedang tidak terlalu ramai semuanya lagi tenang nungguin entah-apa-yang akan di persembahkan oleh senior mereka.

laki-laki dengan tinggi tubuh sekitar 185cm berjalan tengah-tengah para Maba jadi wajar aja kalau menarik perhatian.

“gila, ganteng banget kok gue baru liat ‘sih”

“wah, tau tadi gue dateng terlambat aja”

“Lah telat beneran dia? Di anterin sama yang ganteng lagi huh selamet nasib temen gue” pikir teman gadis itu yang tadi pagi dengan baik hati eh ralat dengan teganya meninggalkan dia.

“tuh fakultas FISIP disana,” senior itu mengarahkan jari telunjuk-nya ke sekerumunan orang mengenakan papan nama dengan warna berbeda-beda.

Gadis itu hanya bisa mengangguk, namun sebelum menghampiri kelompok dengan warna papan nama yang sama tiba-tiba senior itu menepuk punggung-nya.

Ia lantas menoleh dengan tatapan bertanya. Senior itu mendekat lalu,

“lo berutang sama gue, Cathaya” bisiknya, memberi penekanan pada kata ‘Cathaya’ lalu di akhiri dengan senyuman kemudian ia pergi sambil melambaikan tangan-nya ke gadis itu. gadis yang ia sebut ‘Cathaya’.

chandra-s

Sementara itu bulu-kuduk Cathaya tidak berdiri sedikitpun. Malah, dia kesal kenapa harus senior nyebelin itu yang nemuin dia seperti anak bebek kehilangan induk-nya.

***

“Woy, Chandra”

Ya, Namanya Chandra Dirgantara Winata. Suka dipanggil Big Boss sama anggota-nya. Bukan, dia bukanlah ketua BEM.

Jangankan jadi ketua BEM, keterima jadi anggota lalu dapet jabatan ketua korbid logistik saat Program Kerja berlangsung aja udah syukur.

Pokoknya bagian yang mondar-mandir tuh selalu dikasih ke Chandra.

Hampir seantero kampus tau dia, tau lho ya bukan kenal. Yang tau dia banyak tapi yang dia tau gak banyak. Chandra tuh suka tampil di acara-acara live accoustic baik di kampus sendiri maupun kampus tetangga.

Jurusan Teknik Perminyakan, semester 5.

Dulu waktu masih jadi Maba kulit-nya bersih, hampir bisa dibilang putih malah. Namun, seiring berjalan-nya waktu lama kelamaan kulit-nya agak tanned dan yang nge-fans sama dia makin banyak.

Kak Chandra seksi woy,

“Apa, nyet?”

Jawab Chandra yang abis neguk sebotol air mineral sampai gak tersisa, Capek banget keliatan-nya.

Kini dia dan teman-nya, Bian duduk bersebelahan menyandarkan tubuh mereka pada tembok sambil kipas-kipas begitu juga dengan anggota yang lain karena AC di ruang sekre rusak, ya jadi maklum aja.

“baru hari pertama udah dapet target nih?” Bian nyikut lengan Chandra sengaja.

Target? Iya, Bian tuh temenan sama Chandra dari wajah mereka masih tanpa dosa sampai gak ngerasa kalau mereka udah banyak dosa.

Iya, teman dari kecil.

Target menurut Bian disini tuh cewe yang akan jadi kecengan Chandra selanjutnya.

‘Eh sebentar. Bian kalo ngomong suka ngasal, jadi anggap aja angin lalu.

Mendengar itu rasanya Chandra mau ketawa. untung baru ‘mau’ kalau ‘udah’ ketawa, dia tuh rusuh banget suka nyiksa orang yang ada di sekeliling dia.

“Gini, tadi dia tuh telat terus nyasar di gedung FTTM. Which is, lumayan kan dari Gimnasium? Kayaknya tuh anak gak survei lokasi sebelumnya” Jelas Chandra sambil sesekali mengusap keringatnya dengan handuk kecil.

“mana tampang-nya asem, ‘kan biasanya yang ngeliat gue jadi senyum-senyum gak jelas. Jangankan senyum, bilang makasih kakak ganteng aja enggak” gerutu Chandra.

Lalu Bian ketawa dengan suara cemprengnya lantas membuat setiap-orang-yang mendengarnya ingin nimpuk dia pake botol saat itu juga.

Bian ngerti kalau teman-nya ini pelan-pelan berniat menghilangkan kebiasaan buruknya.

Kebiasaan nge-tag sana-sini alias modusin cewe.

“gue tuh udah semester 5, kalau gue begini mulu nanti yang nge-do’ain gue gak lulus jadi makin banyak hahaha”

“ciye tobat ciye, kesambet apaan lo ‘sat?” goda Bian, sat itu maksudnya bangsat.

“berisik lo ‘nyet. Mau balik gue ah capek” ujar Chandra, lalu dia berdiri bersiap-siap untuk ikut pulang juga ketika melihat anggota yang lain satu per satu mulai pamitan.

“eh eh nebeng dong. Motor gue masih di bengkel” Bian juga ikut berdiri ngejar Chandra, karena takut di tinggal sama dia kayak yang udah-udah.

Abian Tetra. Jurusan Arsitek, semester 5.

namanya hanya terdiri dari dua kata seharusnya dia senang karena saat ujian atau ngisi dokumen gak makan banyak waktu hanya untuk nulis nama. Tapi, dia malah kesal karena nama dia selalu berada di nomor absen teratas.

Kenapa nama Bian gak Tetra Abian aja? Kenapa Abian Tetra? Mama gak tau sih aku kalo duduk paling depan pas ulangan suka pengen pipis.

Iya, dulu Bian suka protes gak jelas ke Mama-nya waktu umurnya masih 13 tahun.

Dan penderitaan-nya selalu duduk di depan saat ujian berakhir ketika ia menjadi seorang mahasiswa.

tumblr_inline_o1so4s5rpK1smae63_500

***

“Cath…” Panggil Valerie, teman yang sengaja ninggalin dia di hari pertama ospek. Sebenarnya Valerie gak bermaksud demikian ya Cuma gimana dong? Cathaya di bangunin nya susah banget jadi mau gak mau Valerie tinggal.

“apa le…” Jawab Cathaya males-malesan, dia lagi tiduran aja dikasur sama Kayak Valerie. Bedanya, Valerie sambil baca novelnya Paulo Coelho.

“lo gak marah ‘kan tadi gue tinggalin?” tanya Valerie, dia Cuma gak enak aja sama Cathaya abis sepulang dari ospek tadi Cathaya diem aja dan lesu banget.

Namanya Valerie Keilora Gabriel, dia udah berteman dengan Cathaya sejak kecil dan mereka tanpa sengaja bertemu di Bali kala itu.

Tiba-tiba Cathaya ketawa, Valerie sih mikirnya dia kena epilepsi dadakan abis ngakak banget ternyata enggak.

“gak lah, kan salah gue sendiri. Gapapa kok” Jawab Cathaya nyantai. Sekarang dia duduk, udah dua jam tiduran lama-lama lemes juga.

Valerie tuh orangnya keibuan, calon bu dokter lagi dan hal itu yang buat Cathaya kadang jadi kangen banget sama Mama-nya.

Iya, Mamanya Cathaya Dokter. Tapi, jarang banget tugas di rumah sakit karena terlalu sering menjadi tim relawan yang tugasnya di daerah pedalaman atau negara terpencil yang amat sangat membutuhkan seorang Dokter.

Cathaya itu anak tunggal. Dia, apa-apa selalu sendiri kadang suka ngerasa sepi makanya dia bersyukur atas kehadiran seorang Valerie di hidupnya.

They’re sister from another mother.

Cathaya dibesarkan dengan penuh kasih sayang, makanya terkadang orang kalau ngeliat dia aura-nya kayak ngeliat Puteri Raja, kalem ‘sih tapi dia jarang senyum.

Jadi, sekalinya Cathaya senyum semua pikiran negatif yang mereka punya langsung hilang gitu aja.

Kalo lagi duduk berdua di atas kasur sama Valerie begini menikmati sendunya suasana kota sehabis hujan, Cathaya jadi inget udah hampir setahun dia ninggalin rumah dan memilih tinggal di apartemen milik Papa-nya.

Entah kenapa, dirumah malah membuat dia makin kangen Papa-nya yang ada di London sana dan suasana keharmonisan keluarga mereka dulu.

Iya, dulu. Jadi dulu kalau Cathaya libur sekolah di London pasti dia liburan ke Jakarta atau ke rumah neneknya di Bali, sekeluarga.

Cathaya meninggalkan rumah bukan karena dia gak suka atas keputusan sepihak Mama-nya yang pergi ninggalin dia tugas kesana-kesini, justru dia bangga sama Mama.

Hanya saja terkadang sebagian orang melakukan sesuatu lebih baik ketika mereka sedang sendiri. Dan Cathaya merasa lebih baik ketika ia sendiri, tanpa kenangan yang selalu menghampiri-nya dikala sepi.

“Le, You’re the best deh” ucap Cathaya tiba-tiba ia menatap Valerie hangat penuh kasih sayang. Valerie tau, kalau udah begini pasti dia lagi kangen sama seseorang.

“Sama-sama,” jawab Valerie yang diakhiri dengan senyuman.

FIN


ps: this story is also available on Watpadd! click here. don’t forget to leave a comment! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s