(Noonatea) Moonlight #2

-An Accident-

Accident : any event that happens unexpectedly, without a deliberate plan or cause.

 

Matahari perlahan-lahan terbenam menandakan bahwa senja akan segera berganti menjadi malam. selain itu, di Gimnasium kampus terdengar suara tepukan tangan dan sorak-kegembiraan ratusan Maba.

Ya, masa ospek sudah berakhir. Masa dimana siapa pun yang mengalami nya bisa merasa sangat sebal karena ulah para senior yang menyebalkan atau merasa terkesan karena memiliki teman baru serta cerita baru yang siap mereka ceritakan kepada keluarga di rumah.

Beberapa dari mereka sudah mulai berjalan meninggalkan gimnasium, ada yang tertawa, bercerita, tersenyum lega, dan bahkan menangis terharu. Begitu juga dengan Cathaya dan Valerie.

“eh sumpah gue seneng banget hahaha” ujar Valerie di akhiri dengan suara tawa bahagia “Gimana Cath? Ospek seru kan?” tanya Valerie kepada Cathaya, mereka sedang berjalan menyusuri taman, jalan itu akan membawa mereka ke halte bus belakang kampus.

“iya sih, ini pertama kalinya gue ngerasain orientasi. Seru juga” ujar Cathaya, mimik wajah nya terlihat senang.

sejak pindah ke Jakarta Cathaya belum pernah ngerasain masa orientasi, jadi ya maklum aja kalau dia merasa hal ini menyebalkan namun menyenangkan disaat yang bersamaan.

***

“Good Job lah kalian semua!” puji ketua BEM setelah sesi evaluasi selesai, para anggota juga merasa senang karena program kerja mereka yang wajib dilaksanakan setiap tahunnya berjalan dengan baik.

Kini, para anggota sedang bersantai melepas penat sambil makan gorengan.

“Juna, gorengan aja nih? Gak ada yang lain gitu?” celetuk Leon tiba-tiba. Gak bermaksud sih sebenernya hanya-saja Leon tuh polos nya kelewatan ini nih yang buat teman nya gemes pengen lempar dia ke danau.

Eh tapi kasihan sih, Leon baik kok. Kadang baik sama bego tuh beda tipis.

Sebagai ketua BEM, Juna hanya bisa menghela napas. hapal banget sama kelakuan Leon. dia orang nya emang gitu, jadi Juna maklumin “berdo’a aja biar nol di ATM gue nambah nanti lo bisa makan nasi padang deh”

Leon-makin-gak ngerti dan Juna pun sudah mulai lelah.

“udah di makan aja Leon, gausah bawel ini enak kok” timpal Shalom, salah seorang teman perempuan yang memang sudah terbiasa menasehati Leon.

“Guys, ada yang kehilangan hape gak?” tiba-tiba Chandra datang tangan kirinya mengangkat sebuah ponsel berwarna rose gold sambil membawa bungkusan yang sepertinya-itu-adalah nasi goreng mang Odet yang senantiasa berjualan di depan kampus.

“Lo kemana aja? Eval udah selesai baru dateng wah payah Lo” tegur Juna kesal, emang anggotanya yang satu ini kerjaan nya ilang-ilangan mulu kalau rapat.

“biasa sebat, ini gue nanya ada yang kehilangan hape kagak?” Chandra mengulangi pertanyaan nya.

Para Anggota yang sedang bersantai lantas mengecek saku celana dan saku jaket almamaternya, lalu mereka saling menengok satu sama lain.

“gak ada yang kehilangan deh Chan”

“hape gue masih kok”

“sama hape gue juga”

“Punya maba kali?” celetuk Leon iseng “Coba aja di cek” tumben Leon bener.

Mendengar perkataan Leon, Chandra buru-buru menekan tombol ponsel tersebut dan kebetulan pemiliknya tidak memberi password.

Hampir setiap orang pasti sering selfie, akhirnya Chandra iseng buka galeri nya dengan maksud untuk mengetahui siapa pemilik ponsel yang saat-ini-ada-di tangan nya.

“Lah”  ujar Chandra dalam hati. bola matanya mulai membesar ketika melihat isi galeri tersebut. Bukan, isi galeri nya bukanlah hal-hal yang di gemari oleh mayoritas laki-laki dewasa.

Isi galeri tersebut-mampu-membuat Chandra kaget dan senang di saat yang bersamaan. Ibu jari nya terus men-scroll up layar ponsel tersebut tanpa sadar isi galeri itu mampu membuat nya tersenyum.

***

“Le!” Cathaya menepuk-nepuk bahu Valerie yang sedang beridiri di samping nya. Saat ini mereka sedang berada di halte bus, menunggu bus yang akan mengantar mereka pulang tiba.

“apa sih? Muka lo pucet gitu, mules?”

“bukan, ini hape gue dimana ya? Aduh masa ilang sih?” ujar Cathaya panik, jantung nya mulai berdetak tak beraturan.

Melihat Cathaya panik, Valerie jadi ketularan panik juga “udah lo cek belum” tanya Valerie memastikan.

Cathaya sedang membuka tas nya di bangku halte, mengeluarkan semua isinya, dan merogoh setiap kantung yang terdapat dalam tas tersebut.

“Gak ada Le” ujarnya dengan nada cemas, matanya mulai berkaca-kaca. “itu hadiah dari Papa, aduh gak boleh hilang”

Valerie juga bingung sementara orang-orang yang sejak tadi menunggu bus sudah bersiap-siap untuk naik karena bus nya semakin dekat.

“aduh gimana….” Valerie bingung.

Cathaya menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya secara perlahan “lo pulang duluan. nanti gue nyusul, gue mau balik ke kampus. Siapin spaghetti buat gue ya!” kata Cathaya meminta Valerie untuk pulang. dia gak mau Valerie ikut kena getah nya juga.

“lo serius?!” tanya Valerie memastikan.

“udah sana buruan naik. bus nya udah dateng, daaah Vale!” Cathaya berlari dengan cepat meninggalkan halte bus sementara itu perasaan Valerie menjadi tak karuan melihat kelakuan Cathaya yang random.

***

Hari sudah mulai malam, satu per satu anggota mulai berpamitan pulang untuk melepas penat mereka selama beberapa hari belakangan ini.

“Yow, hati-hati ye langsung pada pulang jangan nyangkut” ujar Juna kepada teman-teman nya yang mulai berpamitan pulang duluan.

“Chandra, tumben lo gacabut duluan” tanya Juna kepada Chandra yang terlihat sibuk mengecek peralatan.

“ini nih logistik, takut ada yang ilang.” Ujar Chandra tanpa mengalihkan pandangan-nya dari tumpukan kardus yang berisi peralatan untuk program kerja organisasi mereka.

“gue balik duluan gapapa nih? Besok pagi gue harus ke Bandara soalnya, jemput kokoh gue” kata Juna hati-hati, pasalnya hanya tinggal mereka berdua saja yang masih berada di ruang sekre.

Chandra menghentikan pekerjaan nya dia menoleh ke Juna “Gapapa duluan aja selaw kali. Hati-hati ye!”.

chandraa

“oke thanks, gue duluan ya” pamit Juna sambil menepuk bahu Chandra. lalu berlari pelan meninggalkan ruang sekre. Sementara itu Chandra hanya bisa melambaikan tangan lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya.

“kayaknya udah lengkap semua. Udeh ah gue balik sendirian disini juga ngapain” Chandra bermonolog. Lalu ia mengambil jaket almamater dan tas nya yang berada di meja.

Udah selesai pikirnya, sekarang waktunya pulang. Mau cepet-cepet Istirahat sambil manja-manja sama Harmonie di kost-an.

Chandra berjalan menyusuri koridor yang udah mulai sepi. Tangan kiri nya ia masukan kedalam saku celana dan tangan kanan nya memegang kunci mobil. Chandra tuh suka banget pulang malem dari kampus. Bukan, bukan karena dia rajin tapi pulang malem itu gak macet dan hawanya syahdu.

Biasanya kalau sore kelas dia udah selesai dia akan di ruang sekre dulu untuk ngerjain tugas, tapi kalau ‘sore’ itu gak bentrok sama jam orang pulang kantor dia akan langsung pulang ‘sih. Gak suka banget macet anaknya.

“Mas, Mas” tiba-tiba seorang sekuriti datang menghampiri Chandra yang sedang berjalan menuju mobilnya sambil menekan tombol alarm di kunci mobil.

“ada apa ya Pak?” tanya Chandra heran, gak biasanya nih sekuriti.

“semua Maba udah pulang kan ya?” sekuriti itu balik bertanya dengan mimik wajah heran. Karena setau dia kalau Mas Chandra udah pulang berarti kegiatan ospek udah selesai.

“setau saya sih udah Pak, kenapa ya?”

“Tadi saya liat perempuan, keliatan nya sih Maba duduk di bawah pohon taman. Saya gak berani nyamperin Mas heheh… takut bukan Maba. baju nya putih”

Lah, Pak gimana sih? Terus harus saya yang nyamperin?

“ah Pak jangan stand up comedy dong, udah ya saya mau pulang” sedikit-banyak Chandra juga ngerasa takut sih-sebenernya. Ada-ada aja nih sekuriti, pikirnya.

“yaudah Mas Chandra maaf ya, ganggu” Sekuriti itu jadi merasa tak enak hati kepada Chandra.

“iya gapapa Pak” ujar Chandra ramah lalu ia masuk kedalam mobil ketika sekuriti itu sudah berjalan kembali ke pos satpam.

Chandra emang suka berbagi sebungkus rokok dengan Bapak sekuriti kalau dia lagi bosen nongkrong di kantin fakultas atau ruang sekre pasti Chandra ke pos satpam, nyebat sambil ngeliatin orang-orang yang lalu lalang. Kebetulan Fakultas dia emang gak jauh dari pos belakang, jadi ya seperti itu lah.

***

Udah hampir jam sepuluh malam dan akhirnya Cathaya pulang ke apartemen dengan muka lesu dan baju lecek sementara itu Valerie yang sejak tadi menunggu-nya dengan spaghetti bolognese menatap-nya sedih.

“gak ketemu Le” ujar Cathaya lemas seraya melemparkan tubuhnya ke sofa ruang tengah. Lalu di ikuti oleh Valerie yang tak bisa berkata apa-apa, sedih ngeliat Cathaya lemas begini.

“lo udah coba telepon nomor gue belum?”

Valerie sontak membulatkan matanya. Iya, ya kenapa gak kepikiran dari tadi?

Buru-buru Valerie mengambil ponselnya yang terletak diatas meja dekat sofa, lalu ia langsung menghubungi nomor Cathaya.

Sementara itu Cathaya menatap Valerie penuh harap, ia berharap kalau seseorang yang menemukan nya berbaik hati ingin mengembalikan ponselnya kepada Cathaya.

“Cath, nyambung Cath!” ujar Valerie antusias, ia langsung memberikan ponselnya kepada Cathaya. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya di angkat.

“Halo” ujar Cathaya

“Halo…. Halo?” ia kembali mengulang perkataan nya.

“Mas, Mba ngomong dong. Itu hape saya tolong di kembaliin” Cathaya mulai kesal sebab si penerima telepon gak mau ngomong.

Bisu kali, ya? Engga deh kayaknya.

“sms-in alamat nya besok gue kembaliin” tiba-tiba si penerima telepon memberikan perintah se-enak jidat. Apaansih kan itu hape Cathaya, kenapa jadi dia yang berkuasa?

“Mas, Mas siapa ya?” tanya Cathaya hati-hati, dia takut kalau yang nemuin ponsel-nya tuh preman.

“mau gue balikin atau jual nih hape lo?” ujar nya dengan nada sedikit nyolot. Rese deh pokoknya.

“aduh gak usah nyolot dong tinggal jawab aja, lo siapa?” merasa gak terima Cathaya jadi marah.

“yakin lo mau tau banget gue?”

Kali ini Cathaya memilih diam, menunggu si orang rese itu jujur lalu berbaik hati untuk mengembalikan ponselnya.

“Chandra, your favorite senior. Lo berutang banyak sama gue,”

Bam! Cathaya ngerasa kayak ketimpuk sesuatu. Kenapa-ponsel-dia harus ditemuin sama Chandra sih?  Pake bilang ‘your favorite senior’ segala. Lah Mas, kenal aja enggak.

Belum sempat Cathaya menjawabnya, sambungan telepon sudah terputus secara sepihak dan ini membuatnya semakin geram.

Kelar deh hidup gue, pikir Cathaya.

“sabar ya Cath…” Valerie hanya bisa mengelus punggung Cathaya pelan. Iya, tadi di loud speaker jadi Valerie tau siapa penemu ponsel Cathaya.

“kasian tuh spaghetti bolognese-nya dianggurin. Makan dulu yuk” ajak Valerie, supaya Cathaya merasa lebih baik. “yang penting ‘kan hape lo udah ketemu” lanjutnya di akhiri dengan senyuman keibuan di wajahnya.

Ah Valerie bikin kangen Mama.

***

Acara bermanja-manja sama Harmonie Chandra batalin karena sekarang ponsel berwarna rose gold ini jauh lebih menarik perhatian-nya. Chandra berbaring diatas kasur sambil melihat-lihat isi ponsel tersebut.

Dia gak tau gimana caranya buat gak iseng sama orang. Ya, Chandra emang iseng hampir ke semua orang apalagi ke kakak perempuan nya Alsy Irina Winata.

Dia tau siapa pemilik ponsel tersebut, pemilik-nya adalah Maba yang ke-gep terlambat di hari pertama ospek yaitu Cathaya.

Sempat iseng ingin baca chat-chat ‘sih, tapi dia sadar itu gak sopan-banget. Akhirnya Chandra kembali melihat-lihat isi galeri ponsel itu, entah kenapa roll kamera-nya terkesan lucu-dan-bagus aja buat Chandra lihat.

‘lucu juga nih cewe’

 

kamera-roll

 

Sejak pertama kali ketemu, Chandra ngerasa kalau Cathaya ‘ya beda aja. dia gak pernah tertarik buat nge-respond candaan-nya seperti di bawah pohon kemarin,

 

12.15 PM, di Taman Kampus

Sambil menunggu waktu istirahat berakhir sepertinya duduk di bawah pohon yang rindang akan menyegarkan. Cathaya, membuka kotak makanan yang berisi sandwich telur kesukaan nya.

“Cathaya ‘ya?”

Setelah mendengar suara itu, sontak Cathaya terkejut. Suara nya sama seperti suara senior yang-memarahi-nya kemarin pagi.

Aduh, siapa sih ini? Kan belum masuk.

Cathaya mengunyah sandwichnya pelan sambil mengalihkan pandangan nya ke belakang, dan benar saja ia mendapati seorang senior laki-laki yang tinggi nya seperti tower sedang berdiri mengenakan jaket almamater sambil memasukan satu tangan nya kedalam saku celana.

Cathaya hanya mengangguk, perasaan nya campur aduk. Ia merasa kesal dan malas di saat yang bersamaan.

“ngapain di sini?”

Ujar Chandra yang mulai berjalan ke arah Cathaya. Kalau bukan senior mungkin Cathaya sudah ingin memaki nya ‘apa sih orang lagi makan dan istirahat rese aja’  Pikir nya.

“nunggu jodoh kak” jawab nya dengan ekspresi datar. Seharusnya Chandra sudah bisa enyah dari pandangan nya, tapi…

“nunggu jodoh apa wangsit? Emang jodoh kamu bakal jatoh dari pohon ini?” ejek nya di akhiri dengan suara tawa kecil.

‘Aku-kamu’ Iya, Chandra kalau lagi di kampus pake jaket almamater dan jadi anggota BEM dia-akan-sopan. Manusia ini kadang penuh pencitraan.

Cathaya enggan menjawab celotehan tidak penting-nya Chandra yang berdiri di tak jauh dari nya.

Ini orang ada masalah apa sih di rumah?

Kedatangan nya membuat Cathaya kehilangan selera makan, akhirnya Cathaya kembali menutup kotak makanan nya.

Masih laper padahal, tapi gak napsu

Tanpa membalas ataupun berpamitan, Cathaya berjalan meninggalkan senior yang menurut nya-sangat-mengganggu itu seorang diri.

 

Kalau di inget-inget ya emang beneran Cathaya beda aja dan entah kenapa hal itu membuat Chandra gemes pengen ngerangkul dia terus di ketekin sambil di acak-acak rambut-nya.

‘eh sebentar kok Chandra jadi punya pikiran begini?

 

11.04 AM – Kost-an Chandra.

Chandra ngeliat ada beberapa foto yang emang latar nya di luar negeri, ketara banget kalau itu di London. Sepertinya sih ponsel-nya belum lama dibeli sama pemilik-nya atau emang jarang dipake foto aja kali ‘ya? Karena isi roll kamera nya baru sedikit.

Dan di foto paling akhir Chandra menemukan foto yang sepertinya foto keluarga. Seorang Pria berwajah bule dan Wanita yang Chandra tau banget kalau itu wajah Asia, lalu seorang anak kecil perempuan di antara kedua-nya. Wajah mereka terlihat sangat bahagia di foto itu, entah kenapa Chandra jadi ikut tersenyum ngeliat foto keluarga itu.

‘oh, mungkin ini foto keluarga-nya. So she’s mixed blood?’ kalimat itulah yang terlintas dipikiran Chandra.

Dan, ‘oh Chandra Dirgantara Winata semakin penasaran.

 


Author’s note:

Chanyeol itu hanya visualisasinya Chandra ya manteman… oh iya lalu visualisasi nya Juna dan Leon tuh siapa ya? yuk tebak!

Ayo, Ayo like cerita ini dan tinggalkan komentar ya! ❤

Advertisements

4 thoughts on “(Noonatea) Moonlight #2

  1. haiiii kakkk, ffnyaa gak di lanjut? aku berasa Kak chataya nih, kira2 kaki besok pas ospek telat bakal digituin senior gak yaaaa, bakal bisa liat senior kece gak yaa hahaha jadi ngehayal sendiri. btw cara ngelikenya gimana sih kak. and i have a question, kenapa kakak pake nama dan chanyeol cuma visualisasinya? kenapa engga langsung namanya chanyeol atau baekhyun ajaa??

    • hai,
      1.cara ngelike?
      tinggal tekan ‘star’ button.
      2.kenapa pake nama dan chanyeol visualisasinya? kenapa engga langsung namanya chanyeol atau Baekhyun ajaa??
      answer: karena mencoba hal baru jauh lebih menyenangkan. ini bukan tentang Baekhyun ataupun Chanyeol ini tentang Chandra, Bian, dan Cathaya dan lain sebagainya. oh iya kamu bisa baca cerita ini di wattpad kok! https://www.wattpad.com/user/IndahAzkasefi

      subscribe+komentar+vote ya! hehe

  2. Haloo kaakk, ff nya ga dilanjut? Padahal seru banget. Gasabar pengen baca kelanjutannya hehe. Menarik aja sih, soalnya ff ini beda dari yg lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s